::wataubatan nasyuha::::wataubatan nasyuha::Latarbelakang Gambar
Untitled       Photobucket - Video and Image Hosting      

Photobucket - Video and Image HostingPhotobucket - Video and Image HostingPhotobucket - Video and Image Hosting http://www.al-islam.com/ind/  http://www.syariahonline.com  http://www.pakdenono.com/index.htm   http://www.freewebs.com/bismillah/index.htm  http://orido.wordpress.com/  http://www.geocities.com/for_erman/software.htm Photobucket - Video and Image Hosting Photobucket - Video and Image Hosting

 DOWNLOAD/LINK PENTING 
  • DOWNLOAD QURAN & HADIST
  • alquran digital translation online
  • download MP3 Alquran
  • dwnload syariah
  • download dakwah info
  • download E-book islami 1
  • download E-book islami 2
  • download E-book Islami 3
  • download E-book islami 4
  • download kumpulan e-book
  • download Freeware Islamic
  • download freeware 1
  • download freeware 2
  • download pendidikan umum
  • download Ragam E-Book
  • nulis arab di Komputer
  • Translite arab
  • translete ing-ind ind-ing
  • Translite bahasa
  • Up load gambar gratis !!
  • up load file gratis !!
  • download game
  • Ansav 32 ::anti Virus >
  • bisnis masa depan
  • berita kab.Asahan
  • cari kerja(karirr.com)
  • ikuti info lowongan pekerjaan
  • Image Hosted by ImageShack.us
    Image Hosted by ImageShack.us

    ingin punya penghasilan !!

    hubungi rizpul@yahoo.co.id

    Photobucket - Video and Image Hosting

    Damai hati damai dalam diri

    situsnya orang cerdas dan anti segalanya

    Cahaya hati

    Rizoa Maskuero Blog

  • Utak atik blog dan Komputer
  • Blog Tutorial Indonesian Muslim Blogger

    ARS PERSONAL WEBLOG

     http://www.rahim.f2o.org

    http://edittag.blogspot.com

    fort muslem adalah web yalin

    Blogroll Me!

    Moga Manfaat

    Terimakasih atas kebaikan anda untuk menyempatkan waktu membuka blog ini moga manfaat.Aamin

    Free Web Counter

    Web Site Counter

    Google
                                Web       wataubatan nasyuha
    BERSIKAP ADIL
    21 May, 2009
    Adil atau keadilan adalah sebuah kata yang tidak asing lagi bagi kita semua.
    Imam al-Mawardi (salah seorang ulama pengikut madzhab Imam asy-Syafi'i) berkata, dalam kitab beliau yang berjudul Adab ad-Dunya wa ad-Diin, "Sesungguhnya di antara perkara yang dapat membuat baik keadaan dunia ini adalah keadilan yang menyeluruh dan mencakup semua sisi kehidupan. Keadilan akan mengajak manusia untuk berbuat baik terhadap sesama, membangkitkan semangat untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala. Dengan keadilan, dunia akan dipenuhi dengan kemakmuran, harta benda akan berkembang dan bertambah banyak, penguasa akan merasa aman dan pemerintahannya akan berumur panjang. Tidak ada sesuatu yang lebih cepat menghancurkan dunia dan merusak serta mengotori hati-hati manusia daripada kezhaliman yang merupakan lawan dari keadilan."


    Adil adalah memutuskan perkara sesuai dengan ketentuan Allah Ta'ala dalam al-Quran dan ketentuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam as-Sunnah, bukan hanya sekedar bergantung kepada akal manusia semata. Dengan pengertian ini dapat kita katakan bahwa hukum Allah memberikan kepada anak laki-laki sebanyak dua bagian anak perempuan dalam masalah pembagian harta warisan adalah hukum yang adil. Begitu pula hukum Allah membolehkan poligami dan mengharamkan poliandri dalam masalah pernikahan adalah hukum yang adil.


    Adil juga didefinisikan sebagai sikap pertengahan antara meremehkan dan berlebih-lebihan dalam suatu perkara.


    Adil merupakan salah satu sifat dari sifat Allah Ta'ala, sebagaimana adil juga merupakan salah satu sifat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda, "Maka siapakah yang dapat berbuat adil jika Allah dan rasulNya (dianggap) tidak berbuat adil?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


    Seorang muslim memandang keadilan secara umum adalah termasuk kewajiban yang paling utama dan pasti, sebab Allah Ta'ala memerintahkan setiap muslim untuk berlaku adil di dalam firmanNya, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat." (QS. an-Nahl: 90)


    Allah Ta'ala mengabarkan bahwa Dia mencintai orang-orang yang senantiasa berbuat adil dalam firmanNya, "Dan berlaku adillah; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. al-Hujurat: 9)


    Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk berbuat adil di dalam perkataan dan di dalam menetapkan hukum. Allah Ta'ala berfirman, "Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu)" (QS. al-An'am: 152)


    "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." (QS.an-Nisa': 58)


    Oleh karena itu, seorang muslim yang baik akan selalu berusaha untuk dapat berbuat adil dalam perkataan maupun dalam perkara hukum. Ia akan senantiasa berbuat adil dalam segala urusannya sampai keadilan menjadi akhlak yang tidak terpisahkan darinya. Ia akan menjauhi segala macam bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan, kezhaliman dan penyelewengan. Ia menjadi orang yang adil yang tidak condong kepada hawa nafsu, syahwat dan fitnah dunia.


    Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan ridha dan kecintaan Allah Ta'ala serta kemuliaan dan kenikmatan dariNya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda, "Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah disediakan bagi mereka mimbar-mimbar dari cahaya di sisi kanan (Allah) Yang Maha Pemurah, Maha Agung lagi Maha Tinggi -dan kedua tanganNya adalah kanan-. Mereka adalah orang yang adil dalam menetapkan hukum, adil terhadap keluarga dan adil dalam kekuasaan." (HR. Muslim [1827])


    Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda, "Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada (hari kiamat), hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, ." (HR. al-Al-Bukhari [660])


    Keadilan memiliki banyak aspek yang dapat ditunjukkan, antara lain:



    a.. Adil terhadap Allah Ta'ala, yaitu dengan tidak berbuat syirik dalam beribadah kepadaNya, mengimani nama-namaNya dan sifat-sifat-Nya, menaatiNya dan tidak bermaksiat kepadaNya, senantiasa berdzikir dan tidak melupakanNya serta mensyukuri nikmat-nikmatNya dan tidak mengingkarinya.


    b.. Adil terhadap sesama manusia, yaitu dengan memberikan hak-hak mereka dengan sempurna tanpa menzhaliminya, sesuai dengan apa yang menjadi haknya.


    c.. Adil terhadap keluarga (anak dan istri), yaitu dengan tidak melebihkan dan mengutamakan salah seorang di antara mereka atas yang lainnya atau kepada sebagian atas sebagian yang lainnya.


    d.. Adil dalam perkataan, yaitu dengan berkata baik dan jujur tidak berdusta, berkata kasar, bersumpah palsu, mengghibah saudara seiman dan lain-lain.


    e.. Adil dalam berkeyakinan, yaitu dengan meyakini perkara-perkara yang disebutkan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah yang shahih dengan keyakinan yang pasti tanpa keraguan sedikitpun dan tidak meyakini hal-hal yang tidak benar yang menyelisihi keduanya.


    f.. Adil dalam menetapkan hukum dan memutuskan perselisihan yang terjadi antara sesama manusia, yaitu dengan menjadikan al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai sumber hukum dan pemutus perkara tersebut.


    Di antara Buah Keadilan :



    a.. Orang yang adil akan mendapatkan keamanan di dunia dan akhirat.


    b.. Apabila orang yang adil berkuasa, maka keadilannya akan memelihara kekuasaannya.


    c.. Keridhaan dari Allah Ta'ala terhadap orang yang adil.


    d.. Orang yang adil tidak akan mengganggu dan menyakiti orang lain ataupun makhluk lainnya.


    e.. Pemilik sifat adil berhak untuk mendapatkan kekuasaan, kemuliaan dan kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.


    f.. Keadilan akan membawa pemiliknya untuk berpegang teguh dengan kebenaran dan meninggalkan kebatilan tanpa ada basa-basi.


    g.. Keadilan dalam Islam mencakup segala sisi kehidupan.


    h.. Keadilan merupakan jalan menuju surga.


    Abu Hurairah radhiallahu 'anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau pernah bersabda, "Pernah ada seorang lelaki yang membeli sebidang tanah dari seseorang. Kemudian sang pembeli menemukan dalam tanah tersebut sebuah bejana berisi emas. Ia pun berkata kepada sang penjual tanah, "Ambillah emasmu ini dariku karena sesungguhnya aku hanya membeli tanah darimu dan tidak membeli emas ini!" Sang penjual berkata, "Sesungguhnya yang aku jual kepadamu adalah tanah dan apa yang ada di dalamnya." Kedua orang itu pun pergi menemui seorang hakim untuk memutuskan perselisihann yang terjadi di antara mereka. Sang hakim bertanya kepada keduanya, "Apakah kalian berdua memiliki anak?" Salah seorang dari keduanya menjawab, "Saya memiliki seorang anak laki-laki." Adapun yang lainnya menjawab, "Saya memiliki seorang anak perempuan." Sang hakim pun berkata, "Kalau begitu, nikahkanlah anak-anak kalian! Kemudian manfaatkanlah emas ini untuk memenuhi kebutuhan kalian berdua dan bersedekahlah darinya!" (HR. al-Bukhari dan Muslim)



    Oleh : Herman Abul Hasan
    Sumber: 1. Minhajul Muslim. 2. Mausu'ah Nadhratin Na'im

    Baca selanjutnya!
    posted by Syahrizal Pulungan @ 6:09 PM   0 comments
    Kafir tersembunyi
    02 November, 2008
    Jika seorang manusia tidak waspada akan Mata Allah yang selalu
    mengawasinya dimanapun - di setiap waktu , maka dia bukanlah seorang
    mukmin. Kalian harus membayangkan dalam hati, bahwa Mata Allah selalu
    bersama kalian. Jika kalian melupakan "Mata Tuhan" maka kalian
    sedang dalam genggaman ego.

    Jika seorang manusia melakukan perbuatan yang tidak disenangi Allah,
    Nabi dan Awliya, maka dia di golongkan sebagai seorang "kafir
    tersembunyi" . Kita diperintahkan untuk membersihkan diri kita baik
    berupa kufr yang nampak dan yang tidak tampak. Untuk itu kalian harus
    waspada akan perbuatan yang terlihat mata dan juga perbuatan yang
    tersembunyi. Perhatikan setiap tingkah laku dan yang akan kalian
    kerjakan, sehingga semuanya membuat Allah, Nabi dan Awliya bahagia.
    Jika perbuatan itu membuat "Mereka " bahagia, maka boleh kalian
    kerjakan, jika tidak, kalian harus meninggalkannya.
    Jika seorang manusia menimbang segala perbuatannya didunia ini, maka
    tidak akan ada yang perlu ditimbang lagi saat Hari Pengadilan nanti.
    Nabi bersabda : " Adalah lebih membahagiakan bagi Allah jika
    seseorang duduk sejam untuk berpikir dan menimbang segala
    perbuatannya daripada dia beribadah selama 70 tahun." Mengapa ?
    karena kalian bisa menghapus 70 tahun ibadah dengan sebuah perbuatan
    yang Allah tidak meridhainya; namun jika kalian menimbangnya dulu
    dengan merenungkannya, maka kalian mampu meninggalkan perbuatan itu
    dan menghindari petakanya.

    Death Experiences
    by Susan Fine

    Saya akan bercerita tentang sebuah rahasia. Kadang-kadang hati dan
    nafas saya berhenti untuk sekian menit, ya saya meninggal... dan saya
    pergi menuju neraka.
    Banyak orang mengira diri mereka baik, melupakan atau tidak peduli
    dengan keburukan yang mereka lakukan. Jika mereka percaya akan
    neraka, mereka mengira seseorang dimasukkan kesana sebagai hukuman,
    tinggal selamanya di sana. Guru-guru sufi kami mengajarkan bahwa
    kitalah yang menghukum diri sendiri dan mengirim ke neraka atau
    kesurga. Neraka bukan sebagai tempat hukuman, tapi untuk
    pembersihan. Inilah hal yang paling susah, paling berat untuk
    membersihkan diri, sedangkan kita tidak tahu tentang hal itu.

    Orang-orang suci membersihkan pengikutnya sebelum mereka meninggal.
    Cintailah para nabi, guru-guru, awliya – semoga rahmat tercurah pada
    mereka. Dan ajaran pada kitab suci menyiapkan kita untuk surga.

    Tiap saya " meninggal ", saya temukan tempat berbeda-beda di neraka.
    Ada satu tempat dimana saya melihat segala hal buruk yang telah saya
    lakukan dengan anggota badan ini. Segala hal yang tidak kita ingat,
    perbuatan buruk yang sama sekali tidak kita sadari, tubuh ini begitu
    menderita saat kita memukul orang , membanting pintu, memukul
    dinding atau berjalan bagai bulldozer diatas bumi tanpa menghormati
    Tuhan dan ciptaan-Nya. Semua orang yang berada di tempat itu amat
    menderita, terus menerus menangis. Saya berada disana saat berusia
    12 tahun. Sungguh tempat yang mengerikan. Sayapun menangis, " Ini
    tidak adil ! saya hanya seorang anak kecil! saya tak tahu tempat apa
    ini dan apa yang membuat saya datang ke sini. "
    Lalu ada sebuah suara : "Itulah yang dikatakan semua orang yang
    berada disini," saya mendengar ribuan orang menangis, mengatakan
    hal yang sama. Sebagian dari mereka sudah sangat tua, mereka
    meraung –raung, " Saya masih kecil waktu itu, saya tidak tahu apa-
    apa."

    Ada lagi tempat yang lebih mengerikan, dimana kalian mendengar
    segala hal buruk yang pernah terucap oleh lidah , kata-kata yang
    dulu pernah kalian tujukan pada orang-orang, bahkan kata-kata yang
    kalian tidak sadar bahwa itu menyakitkan bagi mereka; bercanda yang
    mengakibatkan sakit hati ; kata-kata fitnah ; setiap ucapan yang
    pernah diteriakkan atau dibisikkan secara rahasia ; setiap teguran
    keras ; tuduhan yang salah; hinaan ; semuanya kembali berteriak pada
    kalian di tempat ini dan tubuh terasa amat pedih terbakar oleh api
    namun sama sekali tidak hancur. Saat itu saya berusia 18 tahun
    karena kasus pneumonia. Sebuah tempat dimana hanya ada api, suara-
    suara, rasa malu dan kepedihan.

    Kemudian ada tempat yang lebih parah lagi, dimana segala pikiran
    buruk timbul ; saat-saat dimana kita meragukan Tuhan, marah dan
    jijik akan ciptaan-Nya, menyesali diri sendiri atau merasa superior
    dibanding yang lain. Semua dosa ini terjadi dalam pikiran, semua
    diperlihatkan pada kalian dan pikiran-pikiran itu seperti menggigit
    dan mendorong kalian. Kalian tahu bahwa pikiran itu tidak terbatas
    dan dipenuhi dengan penderitaan yang tidak terbatas pula, sungguh
    sangat menyiksa. Sangat susah untuk pergi dari tempat itu, pikiran
    kita tak mampu kabur dari sana. Bahkan untuk menghafal satu doa
    saja, pikiran kita susah melakukannya. Tidak ada memori, pikiran
    buruk masa lalu terus menerus muncul, berulang-ulang. Jika satu do'a
    muncul spontan di kepala, satu kali saja, menyebut salah satu nama
    Allah yang terlintas dipikiran - maka semuanya menjadi diam,
    kepedihan hilang, dan kita dapat pergi meninggalkan tempat itu -
    namun kegaduhan itu membuat kita susah untuk mencari ketenangan.

    Orang-orang yang pernah meninggal, pergi ke tempat-tempat seperti
    itu. Lalu kembali ke raganya saat dokter menekan alat-alat pada
    tenggorokan, memompa jantungnya agar bisa berdenyut kembali. Mereka
    lalu berkata ," Oh, jika saya hafal satu doa, maka di dalam neraka
    sana, doa itu tidak akan pernah terlupakan. Dan jika tujuan saya
    hanya Tuhan saja maka saya akan selamat. " Namun untuk selanjutnya
    mereka akan berpikir, " Pasti saya sudah berpikiran yang bukan-bukan
    waktu tidak sadarkan diri."

    Yang paling tidak enak adalah setelah kalian pergi ke neraka, nafas
    kalian berhenti, jantung berhenti berdetak, lalu Tuhan membuat
    semuanya "hidup" lagi. Kalian kembali pada kehidupan dengan
    kenyataan bahwa sekarang kalian bukanlah tubuh yang berkeliaran di
    dunia ini, bukan pula lidah dan suara-suara yang bisa bernyanyi
    ataupun mengumpat seenaknya, bukan pula pikiran yang berkelana dan
    dipenuhi gambaran-gambaran menyenangkan. Kalian telah sadar bahwa
    kehidupan ini bukan untuk selamanya, kematian bukanlah final, tidak
    satupun yang pasti, siapapun kalian, jutaan orang di bumi atau di
    neraka tidak lebih baik atau lebih buruk dari kalian sendiri,
    kalianpun merasa sendirian.

    "Kesadaran" mampu meninggalkan suatu tempat, menuju kemanapun
    didunia ini atau bahkan ke tempat-tempat di neraka dan di surga.
    Selubung diangkat saat terjadi kematian, tali telah dipotong saat
    kembali pada kehidupan ini, dan segala hal yang dikira baik atau
    penting sebelum hal ini terjadi, sekarang menjadi tidak berarti sama
    sekali.

    Memahami Spiritualitas Dengan Hati
    Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani


    Khidir a : " Kapan Adam diciptakan ?"
    Jibril as : "Adam yang mana yang kamu bicarakan ?"
    Khidir as : " Bukankah Adam-mu sama dengan Adam-ku ?"
    Jibril as : " Itu Adam yang terakhir. Ada 124.000 Adam-
    Adam yang telah datang dan pergi. Setiap dari mereka mempunyai
    Hari Kiamat, dan sekarang kita sedang berada di masa Adam yang
    terakhir."
    Khidir as : " Jadi kapan sebenarnya Allah menciptakan
    dunia ini ?"
    Jibril as : " Aku akan memberitahumu apa yang aku tahu
    saja."
    Khidir as : " Aku sedang mendengarkan. Ceritakanlah! "

    Jibrilpun mulai bercerita, " Suatu ketika, aku bertanya pada Allah
    agar menunjukkan Ciptaan-Nya padaku. Allah berkata padaku, `Ya
    Jibril, pergilah ke tempat itu dimana kamu akan mendapat
    pengetahuan. ' "

    Ketika turun membawa wahyu untuk Nabi, Jibril hanya menggunakan 2
    sayap dari 600 sayap-sayap yang beliau punyai. Hanya dengan kedua
    sayapnya, cukup untuk menutupi tempat antara tempat asalnya sampai
    ke bumi. Beliau tidak membuka seluruh sayapnya, karena terlalu kecil
    jaraknya. Namun ketika Allah memintanya untuk pergi ke suatu tempat,
    Jibril mengatakan :

    "Aku buka seluruh sayapku untuk pergi ke tempat itu, dengan kecepatan
    yang Allah berikan padaku yang tidak seorangpun mengetahuinya. Aku
    terus terbang dan terbang dalam Waktu Allah. Ketika aku merasa lelah,
    akupun berhenti. Ketika aku berhenti, aku melihat semua waktu dan
    jarak yang telah kutempuh seperti lautan pasir kristal. Kristal-
    kristal itu amat kecil dan bercahaya. Lalu aku bertanya pada
    Allah :'Tempat apakah ini ?' Tuhan-pun menjawab : `Ini hanyalah sudut
    yang sangat kecil dari tempat yang Aku maksud. Ini belum sampai di
    pertengahan `tempat' itu.'

    "Aku kembali membuka sayap-sayapku dan terbang menjelajah `Waktu'
    lainnya, dua kali besarnya dari waktu yang pertama. Namun masih saja
    aku belum sampai di tengah `tempat' yang aku tuju, dimana-mana hanya
    terlihat kristal-kristal kecil dan mengkilap. Pada akhirnya, Allah
    berkata kepadaku, ` Ya Jibril, sekarang mintalah untuk terbang dengan
    Kekuatan-KU. " Lalu dengan Kekuatan Allah, aku bergerak dengan
    kecepatan yang tidak akan pernah terbayangkan oleh manusia. Sampailah
    aku di pertengahan `tempat ` itu. Aku melihat sebuah pohon berwarna
    hijau dan seekor burung yang juga berwarna hijau bertengger disana.
    Setiap detik burung itu terbang turun, kemudian mengambil sebutir
    kristal, memakannya dan terbang kembali ke atas pohon. Akupun
    bertanya,
    'Ya Allah, apakah itu ? `
    `Burung itu adalah kekasih-Ku Muhammad saw.'
    `Dan apakah kristal-kristal itu ?'
    `Setiap butir kristal itu adalah sebuah jagad raya yang berbeda-beda.
    Muhammad adalah Nabi bagi seluruh jagad raya itu. Apa yang sedang
    kamu lihat adalah Ciptaan-Ku yang tiada batas akhirnya. Dan Muhammad
    saw adalah Nabi-Nabi mereka, Awliyanya adalah 124.000 awliya. Begitu
    Nabi memakan butiran jagad raya itu, Akupun menciptakan yang baru,
    dan hal itu tidak akan pernah berakhir.'

    Itulah kebesaran Nabi kita, jangan pernah meremehkan kekuatan
    beliau. Kadang ketika saya mengatakan apa yang saya dengar dari
    Syaikh, saya menggunakan ` kata-kata yang menyilaukan' sehingga
    membuat hati bahagia, namun dibalik itu ada ribuan dan ribuan
    rahasia serta hikmah yang tiada batas dari Samudra Pengetahuan yang
    tidak akan pernah berakhir. Kami tidak akan berhenti berbicara dan
    pengetahuan itu tidak akan pernah ada akhirnya. Sebagaimana Ciptaan
    Allah tidak pernah berakhir, pengetahuanpun tidak akan pernah
    berakhir ; karena ilmu pengetahuan adalah Ciptaan Allah juga.

    Pikiran kita adalah pikiran yang diciptakan. Dengan pikiran yang
    terbatas, kalian tidak akan mampu memahami apa yang tidak terbatas.
    Pikiran hanya terbatas pada pengetahuan yang dimilikinya. Kalian
    tidak akan mampu memahami Tuhan dengan pikiran itu. Pikiran tidak
    mungkin memahami Yang menciptakannya. Sesuatu yang diciptakan tidak
    akan mampu memahami Penciptanya. Namun hati mampu.

    Wa quli-r-ruhu min amri Rabbik. Firman Allah dalam Qur'an : "Ya Nabi,
    katakan pada umatmu bahwa ruh dan jiwa berasal dari-Ku." Karena
    itulah, kita mampu memahaminya. Pikiran dan tubuh berasal dari bumi
    sedang ruh berasal dari Allah. Wa nafakhtu fihi min ruhi " Telah Aku
    tiupkan Ruhku pada Adam." Itulah mengapa Tuhan memerintahkan iblis
    untuk bersujud, bukan bagi tubuh Adam, namun bagi ruhnya, karena ruh
    itu berasal dari Allah.

    Jadi, dengan memusatkan diri melalui roh. kita bisa memahami
    kearifan dan pengetahuan yang tersembunyi. Apakah penghalang antara
    kita dalam menggunakan roh? yaitu ego kita. Saya menghadapi masalah
    di Amerika ini, mereka selalu mengatakan,
    " Kami telah diajari untuk bangga pada diri sendiri sejak kami kecil.
    Untuk meninggikan ego kami." Saya katakan bahwa itu adalah senjata
    setan yang paling merusak untuk menyerang kalian. Hal itu dibenarkan
    bila kalian bangga karena melakukan sesuatu yang baik. Namun ego-pun
    akan mengecoh kalian dengan senjata itu – kesombongan – agar kalian
    jauh dari spiritualitas.

    Seperti menatap sebuah cermin. Pecahkan cermin itu dalam hati kalian
    dan jangan pernah lagi memandang diri sendiri pada cermin itu. Yang
    nyata bukanlah gambaran yang ada di cermin, tapi yang diluar cermin.
    Tanpa ego, kalian akan mencapai kenyataan hakiki.

    Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha

    Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Qubrusi al-Haqqani

    Baca selanjutnya!
    posted by Syahrizal Pulungan @ 10:07 AM   1 comments
    Keistimewaan Bulan Ramadhan dan Doa-doa Pilihan
    29 August, 2008
    Bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan keistimewaan yang besar. Semua amal soleh yang
    dilakukan pada bulan ini akan mendapat balasan lebih banyak dan lebih baik. Oleh karena
    itu kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan dan meninggalkan
    kemaksiatan. Diantara keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan tersebut, disebutkan
    dalam beberapa riwayat:

    1. Ramadhan adalah bulan penuh berkah, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka
    ditutup dan setan-setan pun dibelenggu. Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang
    nilainya lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda:

    قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ
    الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ

    Telah datang Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk
    berpuasa pada bulan itu, saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup,
    para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik
    dari seribu bulan. (HR. Ahmad)

    2. Allah SWT membebaskan penghuni neraka pada setiap malam bulan Ramadhan. Rasulullah
    SAW bersabda:

    إذَا كَانَ أوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا
    بَابٌ وَفُتِّحَتْ أبْوَابُ الجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِيْ مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أقْصِرْ
    وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
    Jika awal Ramadhan tiba, maka setan-­setan dan jin dibelenggu, pintu-pintu neraka
    ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Sedangkan pintu-pintu surga dibuka, dan
    tidak satu pintu pun yang ditutup. Lalu ada seruan (pada bulan Ramadhan); Wahai orang
    yang menginginkan kebaikan, datanglah. Wahai orang yang ingin kejahatan, tahanlah
    dirimu. Pada setiap malam Allah SWT memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka.
    (HR Tirmidzi)

    3. Puasa bulan Ramadhan adalah sebagai penebus dosa hingga datangnya bulan Ramadhan
    berikutya. Rasulullah SAW bersabda:

    اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَاُن إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاةٌ مَا بَيْنَهُنَّ إذَاجْتَنَبَ اْلكَبَائِرَ

    Jarak antara shalat lima waktu, shalat jum’at dengan jum’at berikutnya dan puasa
    Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya merupakan penebus dosa-­dosa yang ada diantaranya,
    apabila tidak melakukan dosa besar. (HR Muslim)

    4. Puasa Ramadhan bisa menebus dosa-dosa yang telah lewat, dengan syarat puasanya
    ikhlas. Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka
    akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)

    5. Barangsiapa memberi buka orang yang puasa maka mendapat pahala sebanyak pahala orang
    puasa tersebut.

    مَنْ فَطَرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أجْرِ الصَّا ئِمِ لَا يَنْقُصَ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ

    Barangsiapa memberi perbukaan (makanan atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka
    dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi
    sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut. (HR Ahmad)

    6. Sedekah yang paling baik adalah pada bulan Ramadhan.

    أيُّ الصَّدَقَةِ أفْضَلُ؟ قَالَ صَدَقَةٌ فَيْ رَمَضَانَ

    Rasulullah SAW pemah ditanya; Sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Yaitu
    sedekah dibulan Ramadhan.” (HR Tirmidzi)

    7. Orang yang banyak beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan, maka dosa-­dosanya
    diampuni oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala,
    maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    8. Doa orang yang berpuasa adalah mustajab Rasulullah SAW bersabda:

    ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ ؛دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

    Ada tiga macam doa yang mustajab, yaitu doa orang yang sedang puasa, doa musafir dan doa
    orang yang teraniaya. (HR Baihaqi)

    9. Puasa dan ِAl-Qur’an yang dibaca pada malam Ramadhan akan memberi syafaat kepada orang
    yang mengerjakannya kelak dihari kiamat. Rasulullah SAW bersabda:

    اَلصُّيَامُ وَاْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ اَلصِّيَامُ أيْ رَبِّ مَنَعْتُهُُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتَ بِالنَّهَارِ
    فَشَفِّعْنِى فَيْهِ وَيَقُوْلُ اْلقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِالَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ قَالَ فَيُشَفِّعَانِ

    Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat. Puasa
    berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari”, ِAl-Qur’ an juga
    berkata: “Aku mencegahnya dari tidur dimalam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.”
    Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat.” (HR Ahmad)

    10. Orang yang melaksanakan Umrah pada bulan Ramadhan maka mendapat pahala seperti
    melakukan Haji. Rasulullah SAW bersabda:

    فَإِنَّ عُمْرَةَ فِيْ رَمَضَانَ حَجَّةٌ

    Sesungguhnya umrah dibulan Ramadhan sama dengan pahala haji. (HR Bukhari)

    Doa-Doa Bulan Ramadhan

    Bulan Ramadhan adalah bulan mulia, penuh berkah dan mustajab, maka kita sangat
    dianjurkan banyak berdoa. Diantara doa-doa penting dibaca pada bulan Ramadhan adalah:

    1. Doa Bulan Rajab dan Sya'ban Menyambut Ramadhan:

    اَللَّهُمَّ باَرِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْناَ رَمَضَانَ

    "Ya Allah, berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya'ban dan pertemukan kami dengan bulan
    Ramadhan." (HR Ahmad)

    2. Doa Lailatul Qadr:

    اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فاَعْفُ عَنَّا

    Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Dzat Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, senang pada
    ampunan, maka ampunilah kami, wahai Dzat yang Maha Pemurah. (HR Tirmidzi)

    3. Doa Shalat Witir:

    سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّْوْسِ

    Maha Suci Engkau penguasa yang memiliki kesucian. (HR Nasai)

    سُبُّوْحٌ قُدُّْوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوْحِ

    Maha Suci Engkau Dzat yang memiliki kesucian, Tuhannya para Malaikat dan Ruh. (HR
    Daruquthni)

    4. Menjelang Berbuka Sebaiknya Membaca doa:

    أشْهَدُ أنْ لاَإلَهَ إلاَّ اللهُ أسْتَغْفِرُ اللهُ أسْألُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

    Saya bersaksi tidak ada Tuhan Selain Allah, Saya mohon ampun kepada Allah, Saya mohon
    Ridha-Mu, Surga­Mu dan selamatkanlah saya dari neraka." Mu dan selamatkanlah saya dari
    neraka.

    5. Doa Buka Puasa

    اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَاءُ وَابْتَلَّتْ العُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأجْرُ إنْ شَاءَ اللهُ

    Ya Allah, Aku berpuasa hanya untuk-­Mu dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Hilanglah rasa
    haus, tenggorakan menjadz basah, semoga pahala ditetapkan, insya Allah." (HR Abu Dawud)

    6. Jika Berbuka di Tempat Saudara dianjurkan mengucapkan:

    أفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُوْنَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمْ اْلأبْرَارَ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلاَئْكَةُ

    Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang puasa. Orang-orang baik memakan makanan
    kalian, dan para malaikat mendoakan kalian." (HR Abu Dawud)
    .................................................................
    KH A Nuril Huda
    Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)


    Baca selanjutnya!
    posted by Syahrizal Pulungan @ 4:54 PM   0 comments
    74 WASIAT UNTUK PARA PEMUDA
    19 July, 2008
    Segala puji bagi Allah yang berfirman:“Dan sungguh Kami telah memerintahkan orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa’: 131)

    Serta shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya
    Muhammad yang bersabda:

    “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah , serta agar kalian mendengar dan patuh.”Dan takwa kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

    Wa ba’du:
    Berikut ini adalah wasiat islami yang berharga dalam berbagai aspek seperti ibadah, muamalah, akhlak, adab dan yang lainnya dari sendi-sendi kehidupan. Kami persembahkan wasiat ini sebagai peringatan kepada para pemuda muslim yang senantiasa bersemangat mencari apa yang bermanfaat baginya, dan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan hal ini bermanfaat bagi orang yang membacanya ataupun mendengarkannya. Dan agar memberikan pahala yang besar bagi penyusunnya, penulisnya, yang menyebarkannya ataupun yang mengamalkannya. Cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik tempat bergantung.

    1. Ikhlaskanlah niat kepada Allah dan hati-hatilah dari riya’ baik dalam perkataan ataupun
    perbuatan.

    2. Ikutilah sunnah Nabi dalam semua perkataan, perbuatan, dan akhlak.

    3. Bertaqwalah kepada Allah dan ber’azamlah untuk melaksanakan semua perintah dan
    menjauhi segala larangan-Nya.

    4. Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuha dan perbanyaklah istighfar.

    5. Ingatlah bahwa Allah senatiasa mengawasi gerak-gerikmu. Dan ketahuilah bahwa Allah
    melihatmu, mendengarmu dan mengetahui apa yang terbersit di hatimu.

    6. Berimanlah kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir
    serta qadar yang baik ataupun yang buruk.

    7. Janganlah engkau taqlid (mengekor) kepada orang lain dengan buta (tanpa memilih dan
    memilah mana yang baik dan yang buruk serta mana yang sesuai dengan sunnah/syari’at
    dan mana yang tidak). Dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak punya pendirian.

    8. Jadilah engkau sebagai orang pertama dalam mengamalkan kebaikan karena engkau akan
    mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikuti/mencontohmu dalam
    mengamalkannya.

    9. Peganglah kitab Riyadlush Shalihin, bacalah olehmu dan bacakan pula kepada keluargamu,
    demikian juga kitab Zaadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim.

    10. Jagalah selalu wudlu’mu dan perbaharuilah. Dan jadilah engkau senantiasa dalam
    keadaan suci dari hadats dan najis.

    11. Jagalah selalu shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid terlebih lagi sahalat ‘Isya
    dan Fajr (shubuh).

    12. Janganlah memakan makanan yang mempunyai bau yang tidak enak seperti bawang
    putih dan bawang merah. Dan janganlah merokok agar tidak membahayakan dirimu dan
    kaum muslimin.

    13. Jagalah selalu shalat berjamaah agar engkau mendapat kemenangan dengan pahala yang
    ada pada shalat berjamaah tersebut.

    14. Tunaikanlah zakat yang telah diwajibkan dan janganlah engkau bakhil kepada orangorang
    yang berhak menerimanya.

    15. Bersegeralah berangkat untuk shalat Jumat dan janganlah berlambat-lambat sampai
    setelah adzan kedua karena engkau akan berdosa.

    16. Puasalah di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah
    agar Allah mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu ataupun yang akan datang.
    17. Hati-hatilah dari berbuka di siang hari di bulan Ramadhan tanpa udzur syar’i sebab
    engkau akan berdosa karenanya.

    18. Tegakkanlah shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan terlebih-lebih pada malam
    lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar engkau
    mendapatkan ampunan atas dosa-dosamu yang telah lalu.

    19. Bersegeralah untuk haji dan umrah ke Baitullah Al-Haram jika engkau termasuk orang
    yang mampu dan janganlah menunda-nunda.

    20. Bacalah Al-Qur’an dengan mentadaburi maknanya. Laksanakanlah perintahnya dan jauhi
    larangannya agar Al-Qur’an itu menjadi hujjah bagimu di sisi rabmu dan menjadi penolongmu
    di hari qiyamat.

    21. Senantiasalah memperbanyak dzikir kepada Allah baik perlahan-lahan ataupun
    dikeraskan, apakah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring. Dan hati-hatilah
    engkau dari kelalaian.

    22. Hadirilah majelis-majelis dzikir karena majelis dzikir termasuk taman surga.

    23. Tundukkan pandanganmu dari aurat dan hal-hal yang diharamkan dan hati-hatilah
    engkau dari mengumbar pandangan, karena pandangan itu merupakan anak panah beracun
    dari anak panah Iblis.

    24. Janganlah engkau panjangkan pakaianmu melebihi mata kaki dan janganlah engkau
    berjalan dengan kesombongan/keangkuhan.

    25. Janganlah engkau memakai pakaian sutra dan emas karena keduanya diharamkan bagi
    laki-laki.

    26. Janganlah engkau menyeruapai wanita dan janganlah engkau biarkan wanita-wanitamu
    menyerupai laki-laki.

    27. Biarkanlah janggutmu karena Rasulullah: “Cukurlah kumis dan panjangkanlah janggut.”
    (HR. Bukhari Dan Muslim)

    28. Janganlah engkau makan kecuali yang halal dan janganlah engkau minum kecuali yang
    halal agar doamu diijabah.

    29. Ucapkanlah "bismillah" ketika engkau hendak makan dan minum dan ucapkanlah
    "alhamdulillah" apabila engkau telah selesai.

    30. Makanlah dengan tangan kanan, minumlah dengan tangan kanan, ambillah dengan
    tangan kanan dan berilah dengan tangan kanan.
    31. Hati-hatilah dari berbuat kezhaliman karena kezhaliman itu merupakan kegelapan di hari
    kiamat.

    32. Janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang mukmin dan janganlah dia memakan
    makananmu kecuali engkau dalam keadaan bertaqwa (dengan ridla dan memilihkan makanan
    yang halal untuknya).

    33. Hati-hatilah dari suap-menyuap (kolusi), baik itu memberi suap, menerima suap ataupun
    perantaranya, karena pelakunya terlaknat.

    34. Janganlah engkau mencari keridlaan manusia dengan kemurkaan Allah karena Allah akan
    murka kepadamu.

    35. Ta’atilah pemerintah dalam semua perintah yang sesuai dengan syari’at dan doakanlah
    kebaikan untuk mereka.

    36. Hati-hatilah dari bersaksi palsu dan menyembunyikan persaksian.
    “Barangsiapa yang menyembunyikan persaksiannya maka hatinya berdosa. Dan Allah maha
    mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Baqarah: 283)

    37. “Dan ber amar ma’ruf nahi munkarlah serta shabarlah dengan apa yang menimpamu.”
    (Luqman: 17) Ma’ruf adalah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya , dan munkar adalah apa apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.

    38. Tinggalkanlah semua hal yang diharamkan baik yang kecil ataupun yang besar dan
    janganlah engkau bermaksiat kepada Allah dan janganlah membantu seorangpun dalam
    bermaksiat kepada-Nya.

    39. Janganlah engkau dekati zina. Allah berfirman: “Janganlah kalian mendekati zina.
    Sesungguhnya zina itu adalah kekejian dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra’:32)

    40. Wajib bagimu berbakti kepada orang tua dan hati-hatilah dari mendurhakainya.

    41. Wajib bagimua untuk silaturahim dan hati-hatilah dari memutuskan hubungan
    silaturahim.

    42. Berbuat baiklah kepada tetanggamu dan janganlah menyakitinya. Dan apabila dia
    menyakitimu maka bersabarlah.

    43. Perbanyaklah mengunjungi orang-orang shalih dan saudaramu di jalan Allah.

    44. Cintalah karena Allah dan bencilah juga karena Allah karena hal itu merupakan tali
    keimanan yang paling kuat.

    45. Wajib bagimu untuk duduk bermajelis dengan orang shalih dan hati-hatilah dari
    bermajelis dengan orang-orang yang jelek.

    46. Bersegeralah untuk memenuhi hajat (kebutuhan) kaum muslimin dan buatlah mereka
    bahagia.

    47. Berhiaslah dengan kelemahlembutan, sabar dan teliti. Hatilah-hatilah dari sifat keras,
    kasar dan tergesa-gesa.

    48. Janganlah memotong pembicaraan orang lain dan jadilah engkau pendengar yang baik.

    49. Sebarkanlah salam kepada orang yang engkau kenal ataupun tidak engkau kenal.

    50. Ucapkanlah salam yang disunahkan yaitu "assalamualaikum" dan tidak cukup hanya
    dengan isyarat telapak tangan atau kepala saja.

    51. Janganlah mencela seorangpun dan mensifatinya dengan kejelekan.

    52. Janganlah melaknat seorangpun termasuk hewan dan benda mati.

    53. Hati-hatilah dari menuduh dan mencoreng kehormatan oarng lain karena hal itu termasuk
    dosa yang paling besar.

    54. Hati-hatilah dari namimah (mengadu domba), yakni menyampaikan perkataan di antara
    manusia dengan maksud agar terjadi kerusakan di antara mereka.

    55. Hati-hatilah dari ghibah, yakni engkau menceritakan tentang saudaramu apa-apa yang
    dia benci jika mengetahuinya.

    56. Janganlah engkau mengagetkan, menakuti dan menyakiti sesama muslim.

    57. Wajib bagimu melakukan ishlah (perdamaian) di antara manusia karena hal itu
    merupakan amalan yang paling utama.

    58. Katakanlah hal-hal yang baik, jika tidak maka diamlah.

    59. Jadilah engkau orang yang jujur dan janganlah berdusta karena dusta akan
    mengantarkan kepada dosa dan dosa mengantarakan kepada neraka.

    60. Janganlah engkau bermuka dua. Datang kepada sekelompok dengan satu wajah dan
    kepada kelompok lain dengan wajah yang lain.

    61. Janganlah bersumpah dengan selain Allah dan janganlah banyak bersumpah meskipun
    engkau benar.

    62. Janganlah menghina orang lain karena tidak ada keutamaan atas seorangpun kecuali
    dengan taqwa.

    63. Janganlah mendatang dukun, ahli nujum serta tukang sihir dan jangan membenarkan
    (perkataan) mereka.

    64. Janganlah menggambar gambar manuasia dan binatang. Sesungguhnya manusia yang
    paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah tukang gambar.

    65. Janganlah menyimpan gambar makhluk yang bernyawa di rumahmu karena akan
    menghalangi malaikat untuk masuk ke rumahmu.

    66. Tasymitkanlah orang yang bersin dengan membaca: "yarhamukallah" apabila dia
    mengucapkan: "alhamdulillah"

    67. Jauhilah bersiul dan tepuk tangan.

    68. Bersegeralah untuk bertaubat dari segala dosa dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan
    karena kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan hati-hatilah dari menunda-nunda.

    69. Berharaplah selalu akan ampunan Allah serta rahmat-Nya dan berbaik sangkalah kepada
    Allah .

    70. Takutlah kepada adzab Allah dan janganlah merasa aman darinya.

    71. Bersabarlah dari segala mushibah yang menimpa dan bersyukurlah dengan segala
    kenikamatan yang ada.

    72. Perbanyaklah melakukan amal shalih yang pahalanya terus mengalir meskipun engkau
    telah mati, seperti membangun masjid dan menyebarakan ilmu.

    73. Mohonlah surga kepada Allah dan berlindunglah dari nereka.

    74. Perbanyaklah mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah.

    Shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya sampai hari kiamat juga kepada
    keluarganya dan seluruh shahabatnya.

    (Diterjemahkan dari buletin berjudul 75 Washiyyah li Asy-Syabab terbitan Daarul Qashim
    Riyadl-KSA oleh Abu Abdurrahman Umar Munawwir)

    Baca selanjutnya!
    posted by Syahrizal Pulungan @ 11:09 PM   6 comments
    Makna Tauhid
    16 July, 2008
    Sesungguhnya kaidah Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar; satu-satunya yang diterima dan diridloi Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa untuk hamba-hamba Nya, yang merupakan satu-satunya jalan menuju kepada Nya, kunci kebahagiaan dan jalan hidayah, tanda kesuksesan dan pemelihara dari berbagai perselisihan, sumber semua kebaikan dan nikmat, kewajiban pertama bagi seluruh hamba, serta kabar gembira yang dibawa oleh para rasul dan para nabi adalah IBADAH HANYA KEPADA ALLAH Subhaanahu Wa Ta'aalaa SEMATA TIDAK MENYEKUTUKANNYA, bertauhid dalam semua keinginannya terhadap Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, bertauhid dalam urusan penciptaan, perintah-Nya dan seluruh asma (nama-nama) dan sifat-sifat Nya. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
    Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS An Nahl: 36)

    baca selanjutnya


    وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون
    Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS Al Anbiyaa’ : 25)

    وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
    “Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS At Taubah: 31)

    فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ(2)أَلاَ لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
    “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS Az Zumar: 2-3)

    وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
    “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”(QS Al Bayyinah: 5)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Orang yang mau mentadabburi keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa serta taat kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sebaliknya semua kejelekan di muka bumi ini; fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya adalah menyelisihi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan berdakwah (mengajak) kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Orang yang mentadabburi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini baik dalam dirinya maupun di luar dirinya.” (Majmu’ Fatawa 15/25)

    Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka syetan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Syetan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.

    Jika syetan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, syetan tidak akan putus asa untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan ke dalam berbagai bid’ah dan khurafat. (Al Istighatsah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal 293, lihat Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan, hal 4)

    Setiap dakwah Islam yang baru muncul tidak dibangun di atas tauhid yang murni kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan tidak menempuh jalan yang telah dilalui oleh para salaful ummah yang shalih, maka akan tersesat hina dan gagal, meski dikira berhasil, tidak sabar ketika berhadapan dengan musuh, tidak kokoh dalam al haqq dan tidak kuat berhadapan (dengan berbagai rintangan).

    Kita saksikan banyak contoh-contoh dakwah yang dicatat dalam sejarah berbicara kenyataan yang menyedihkan ini dan akhir yang buruk. Dakwah-dakwah yang berlangsung bertahun-tahun, yang telah mengorbankan nyawa dan harta kemudian berakhir dengan kebinasaan.

    Namun seorang mu’min yang yakin dengan janji Allah yang pasti benar, tidak akan putus asa dan menjadi kendor, tidak akan gentar menghadapi berbagai cobaan dan tidak akan menerima jika sekian banyak percobaan-percobaan itu berlangsung silih berganti tanpa ada manfaat yang diambil atau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. (Sebagaimana hadits dari sahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no 6133) dan Imam Muslim (no 2998) serta Imam Ahmad dalam Musnadnya (2/379)

    Sudah ada teladan dan contoh yang paling bagus pada diri Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

    لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم
    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat. (QS Al Ahzaab: 21)

    Inilah manhaj pertama dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam berdakwah kepada tauhid, memulai dengan tauhid dan mendahulukan tauhid dan semua urusan yang dianggap penting. (Diringkas dari Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan, hal 2-6)

    فضل التوحيد
    (KEUTAMAAN TAUHID)

    Berbicara tentang keutamaan tauhid sebenarnya terkandung unsur kewajiban untuk bertauhid. Sebab “tidak berarti bahwa adanya keutamaan pada sesuatu berarti bahwa sesuatu itu tidak wajib, karena keutamaan merupakan hasil atau buah yang ditimbulkan. Seperti sholat jama’ah yang telah jelas keutamaannya dalam hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam:

    صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة
    “Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendiri, dua puluh tujuh derajat.” (HR Imam Bukhari [Kitab Adzan, bab Keutamaan Shalat Jama’ah] dan Imam Muslim (Kitab Al Masajid [masjid-masjid], Bab Keutamaan Shalat Jam’ah) Keutamaan yang ada pada shalat jama’ah ini tidak berarti bahwa shalat jama’ah ini tidak wajib.

    Jadi tidak selalu berarti bahwa ketika kita berbicara tentang keutamaan tauhid berarti tauhid itu tidak wajib, sebab tauhid adalah kewajiban yang paling pertama. Tidak mungkin suatu amal akan diterima tanpa tauhid. Tidak mungkin seorang hamba bertaqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa tanpa tauhid. Sekaligus bahwa tauhid juga memiliki keutamaan.

    Faidah tauhid sangat banyak, diantaranya:

    1. Tauhid adalah penopang utama yang memberikan semangat dalam melakukan ketaatan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa; sebab orang yang bertauhid akan beramal untuk dan karena Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, baik ketika ia sendiri maupun ketika bersama orang banyak. Sedangkan orang yang tidak bertauhid, misalnya seperti orang yang riya`, ia hanya akan bersedekah, shalat dan berdzikir kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa kalau ada orang yang melihatnya. Oleh karena itu sebagian ulama salaf mengatakan: Sesungguhnya saya sangat ingin bertaqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dengan melakukan ketaatan yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

    2. Orang-orang yang bertauhid akan mendapatkan ketenangan dan petunjuk, sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa:

    الذين ءامنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون
    Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’aam ayat 82)

    Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Nya semata yang tidak ada sekutu bagi Nya, dan mereka tidak menyekutukan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa sedikitpun dalam berbagai hal. Mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan pada hari Qiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.”

    Syekh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin –hafizhalullah- mengatakan: Firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa (Wahum Muhtaduun; dan merekalah orang-orang yang mendapatkan hidayah) maksudnya di dunia, (mendapatkan hidayah) menuju syari’at Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dengan ilmu dan amal. Mendapat hidayah dengan ilmu adalah hidayah irsyaad, sedangkan mendapat hidayah dengan amal adalah hidayah taufiq. Mereka juga mendapatkan hidayah di akhirat menuju surga. Hidayah di akhirat ini, untuk orang-orang yang zhalim (mereka mendapatkan hidayah) jalan menuju neraka jahim, sebaliknya untuk orang-orang yang tidak zhalim mendapat hidayah jalan menuju surga (yang penuh kenikmatan). Banyak diantara ulama tafsir yang mengatakan tentang firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa (أُولَئِكَ لَهُمُ الأَْمْنُ) mereka adalah orang-orang yang mendapatkan rasa aman: Rasa aman itu di akhirat sedangkan hidayah itu di dunia. Pendapat yang lebih tepat bahwa rasa aman dan hidayah itu bersifat umum, baik di dunia maupun di akhirat.”

    Ketika ayat ini turun dirasakan berat oleh para sahabat -radliyallaahu 'anhum-. Mereka mengatakan: “Siapakah diantara kita yang tidak menzholimi dirinya sendiri ?” Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menjelaskan: “Maksud ayat tersebut bukan seperti yang kalian kira, yang dimaksud zholim dalam ayat tersebut adalah syirik, tidakkah kalian mendengar perkataan lelaki yang sholeh, Luqman:

    إن الشرك لظلم عظيم
    “Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang sangat besar.” (QS Luqman: 13)

    Ada beberapa jenis zholim:

    1) Zholim yang paling besar yaitu syirik dalam hak Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

    2) Zholim yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri, dengan tidak memberikan haknya, seperti orang yang berpuasa dan tidak berbuka, orang yang shalat malam terus dan tidak tidur.

    3) Zholim yang dilakukan seseorang terhadap orang lain, misalnya memukul, membunuh, mengambil harta dan lain-lain.

    Jika tidak ada kezholiman maka akan terwujud keamanan. Namun apakah keamanan yang smepurna ?

    Jawabannya: jika imannya sempurna dan tidak dicampuri ma’shiyat maka akan terwujud rasa aman yang mutlak (sempurna), jika iamnnya tidak sempurna maka yang akan terwujud adalah rasa aman yang kurang juga.

    Contohnya: Orang yang melakukan dosa besar. Ia akan aman dari ancaman tinggal kekal di neraka, tetapi tidak aman dari adzab yang akan menimpa dirinya, tergantung kehendak Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa (apakah diampuni atau di adzab?). Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

    إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

    Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS An Nisaa` ayat 116)

    Ayat ini (QS Luqman ayat 13) Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa nyatakan sebagai pemutus antara Nabi Ibrahim 'alaihis salaam dengan kaumnya ketika beliau mengatakan kepada mereka:

    وكيف أخاف ما أشركتم ولا تخافون أنكم أشركتم بالله ما لم ينزل به عليكم سلطانا فأي الفريقين أحق بالأمن إن كنتم تعلمون

    Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?” (QS Al An’am: 81)

    Kemudian Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

    الَّذِينَ ءامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَْمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
    Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’aam ayat 82)

    الشرك
    SYIRIK
    Pembatal ke-Islaman seseorang yang paling besar adalah syirik kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Oleh karena itu kita temukan dalam al Qur`an Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa mengingatkan kita (agar menjauhkan) syirik, orang-orang yang melakukan syirik dan akibat yang akan mereka rasakan, dalam banyak ayat. Lafadz syirik dan bentukannya disebutkan berulang-ulang dalam al Qur`an lebih dari 160 kali. Demikian juga dalam sunnah, kita temukan sangat banyak hadits-hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskan bahayanya.



    PENGERTIAN SYIRIK

    Menurut bahasa: Syirik adalah sebuah kata yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang terjadi antara dua orang atau lebih.

    Menurut istilah syar’i: Syirik kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa maksudnya menjadikan sekutu bagi Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, baik dalam rububiyahnya ataupun uluhiyahnya, tetapi istilah syirik lebih sering digunakan untuk syirik dalam uluhiyahnya.

    Atau: menyamakan selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dengan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam hal-hal yang menjadi hak Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.



    HUKUM SYIRIK

    Syirik adalah larangan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang paling besar. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman dalam surat An Nisaa` ayat 36:

    وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
    “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”

    Syirik juga merupakan perbuatan haram yang pertama (harus ditinggalkan). Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman dalam surat Al An’aam ayat 151:

    قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

    “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”



    PENGGUNAKAN KATA SYIRIK

    Jika anda mendapat istilah syirik dalam buku aqidah maka maksudnya bisa berarti syirik akbar atau syirik ashghar. Maka anda jangan menghina orang-orang yang mendakwahkan tauhid bahwa mereka selalu menghukumi segala sesuatu dengan syirik. Fahamilah setiap ungkapan pada tempatnya yang tepat.

    Oleh karena itu anda perlu mengetahui bahwa syirik dalam pengertian syar’I digunakan untuk tiga makna:

    1. Meyakini ada sekutu bagi Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam kekuasaan, rububiyah, mencipta, memberi rizqi dan mengatur alam. Siapa yang meyakini bahwa ada orang yang mengatur alam ini dan mengatur seluruh urusannya, maka ia telah menyekutukan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam rububiyah dan telah kafir kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Dalil-dalil (argumen-argumen) yang menunjukkan bathilnya keyakinan akan adanya dzat lain selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang memiliki hak rububiyah sangat banyak dan begitu jelas, baik dalil yang bisa kita saksikan dari alam ini maupun dalil sam’i (al Qur`an dan as Sunnah). Diantaranya firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam surat Saba` ayat 22:

    قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَوَاتِ وَلاَ فِي الأَْرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ

    Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya”.

    Syirik jenis ini tidak terjadi pada semua orang kafir di zaman Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sebagian mereka meyakini bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa adalah pencipta dan pengatur alam. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

    وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَْرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
    Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS Al Ankabut: 61)

    وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأَْرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ

    “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya).” (QS Al Ankabut: 63)

    2. Meyakini adanya dzat selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang bisa memberikan manfaat atau madlarat, dzat ini merupakan perantara antara Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan makhluq, maka sebagian jenis ibadah ditujukan padanya. Inilah yang dinamakan syirik dalam uluhiyyah. Syirik inilah yang banyak dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy. Mereka mengatakan tentang sembahan mereka

    مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
    (mereka berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS Az Zumar: 3)

    Inilah keyakinan yang tersebar di kalangan mereka, sebagaimana friman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam surat Ghafir ayat 12:

    ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ
    “Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja yang disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan, maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

    Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa menceritakan keadaan mereka dalam surat Shaad: 4-5

    وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ () أَجَعَلَ الآْلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

    Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.

    Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa menceritakan bahwa tauhid kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan meninggalkan syirik adalah sebab diutusnya para rasul. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman dalam surat Ar Ra`d ayat 36:

    قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ
    “Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali”.

    Syirik akan merusak dan menghapus semua amal dan hal ini berlaku pada seluruh umat. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman dalam surat Az Zumar ayat 65:

    وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
    “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”

    Oleh karena itu Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa memerintahkan (hamba-hamba Nya) untuk beribadah kepada Nya dan melarang menyekutukan (syirik kepada) Nya dalam banyak ayat:

    وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
    “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS An Nisaa` ayat 36)

    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
    Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS An Nahl ayat 36)

    أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لاَ تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ () وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

    “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS Yasiin ayat 60-61)

    3. Mempertimbangkan (dapat perhatian, pujian dan lain-lain) dari selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam perkataan maupun perbuatan. Adapun mempertimbangkan perhatian atau pujian dalam perbuatan seperti riya yang dilakukan oleh orang yang rajin ibadah, misalnya ketika shalat, ia panjangkan berdiri, ruku’ dan sujudnya kemudian ia tampakkan kekhusyu’annya di hadapan orang banyak, ketika ia puasa, ia tampakkan bahwa dirinya sedang puasa, misalnya dengan mengatakan: “Apa anda tidak tahu bahwa hari ini Senin (atau Kamis) ?” “Apa anda tidak puasa ?” Atau ia katakan: “Hari ini saya undang anda untuk berbuka puasa bersama ?” Demikian pula haji dan jihad. Ia pergi haji dan jihad tetapi tujuannya riya`.

    Riyanya orang-orang yang cinta dunia seperti orang yang angkuh dan sombong ketika berjalan, memalingkan mukanya atau menggerakkan kendaraannya dengan gerakan khusus.

    Riya` dengan teman atau orang yang berkunjung ke rumahnya, seperti orang yang memaksakan diri meminta seorang ‘alim atau seorang yang dikenal ahli ibadah untuk datang ke rumahnya agar dikatakan bahwa fulan telah mengunjungi rumahnya, atau sebaliknya ia kunjungi mereka (orang-orang ‘alim dan ahli ibadah) agar dikatakan bahwa kami telah mengunjungi fulan atau kami telah bertemu dengan ‘alim fulan dan yang lainnya.

    Sedang riya dengan perkata yang dilakukan oleh orang-orang ahli agama seperti orang yang memberikan nasehat di majlis-majlis, kemudian ia menghafal hadits-hadits dan atsar-atsar khusus untuk acara-acara tertentu agar bisa berbicara dan debat dengan orang-orang, sehingga tampak di hadapan mereka bahwa ia memiliki pengetahuan tentang hal-hal tersebut, tampak di hadapan mereka bahwa ia memiliki ilmu yang kuat dan perhatian yang besar terhadap keadaan ulama-ulama salaf, tetapi ketika kita lihat di rumahnya bersama keluarganya, ia adalah orang jauh dari keadaan tersebut. Contoh lain adalah menggerak-gerakkan kedua bibir untuk berdzikir di hadapan orang banyak dan menampakkan kemarahan terhadap kemunkaran di hadapan orang, tetapi ketika ia berada di rumah ia tidak mengingkari atau lalai melakukan hal tersebut.

    Semua perbuatan ini mengurangi kesempurnaan tauhid dan ikhlas.

    Sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan tercelanya perbuatan ini, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al Khudri, ia berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال ؟ قال: قلنا: بلى, قال: الشرك الخفي أن يقوم الرجل يصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل.

    “Maukah kalian saya beritahu tentang perbuatan yang bagi saya itu lebih saya takuti daripada Al Masih Ad Dajjal? Kami katakan: Ya,” Ia berkata: “Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Syirik khafiyy (yang tersembunyi) yaitu seseorang mengerjakan shalat kemudian ia perbaiki shalatnya karena ia mengetahui ada orang yang melihatnya.” (Menurut Syaikh Al Albani rahimahullah hadits ini hasan. Shahih Sunan Ibni Majah 2/310 hadits no 3389).

    Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

    من سمع سمع الله به ومن راءى راءى الله به
    “Siapa yang memperdengarkan amalnya maka Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa akan memperdengarkan (aibnya) dan siapa yang riya` maka Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa akan akan menampakkan (aibnya pada hari Qiamat.”



    MACAM-MACAM SYIRIK

    Para ulama berbeda pendapat dalam mengungkapkan pembagian syirik meski intinya tidak terlepas dari tiga penggunaan kata syirik yang telah dibahas di atas. Namun pembagian yang merangkum semuanya bisa kita katakan bahwa syirik terbagi menjadi dua:

    1. Syirik Akbar.

    Syirik ini terbagi menjadi dua:

    1) Syirik yang berkaitan dengan dzat Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa atau syirik dalam rububiyah Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Syirik ini terbagi lagi menjadi dua:

    (1) Syirik dalam ta’thil, seperti syirik yang dilakukan oleh Fir’aun dan orang-orang atheis.

    (2) Syirik yang dilakukan oleh orang yang menjadikan sembahan lain selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa tetapi tidak menafikan asma (nama-nama), sifat-sifat dan rububiyah Nya, seperti syirik yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani yang menjadikan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa sebagai salah satu dari tiga Tuhan (trinitas).

    2) Syirik yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa atau syirik dalam uluhiyyah. Syirik ini ada empat jenis:

    (1) Syirik dalam berdo’a; yaitu berdo’a kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

    (2) Syirik dalam niat, keinginan dan kehendak. Beramal karena ditujukan kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa menyebabkan pahalanya hilang.

    (3) Syirik dalam keta’atan; yaitu seorang hamba taat kepada makhluk dalam perbuatan ma’shiyat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

    (4) Syirik dalam mahabbah; yaitu seorang hamba mencintai makhluk seperti cintanya kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

    2. Syirik Ashghar.

    Syirik Ashghar terbagi menjadi dua:

    1) Yang Zhahir (tampak);

    - mengerjakan amal dengan riya`. Melakukan perbuatan untuk selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang zhahir (tampak)nya untuk Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, tetapi dalam hatinya tidak ikhlas karena Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

    - dengan ucapan, seperti bersumpah dengan selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, perkataan: Ma Syaa Allah wa Syi`ta.

    2) Yang Khafiyy (samar);

    Yaitu sesuatu yang kadang-kadang, terjadi dalam perkataan atau perbuatan manusia tanpa ia sadari bahwa itu adalah syirik. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas -radliyallaahu 'anhuma- bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    الشرك فى أمتي أخفى من دبيب النمل على الصفا
    “Syirik bagi umatku lebih halus (samar) dari pada barjalannya semut di atas batu yang licin (hitam).” (Hadits ini dishahihkan oleh Syekh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, hadits no 3730 dan 3731)

    Karena begitu halusnya syirik ini sehingga para sahabat bertanya pada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bagaimana caranya terhindar dari syirik ini? Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Katakanlah (Bacalah) oleh kalian semua

    اللهم إنا نعوذبك من أن نشرك بك شيئا نعلمه ونستغفرك لما لا نعلمه

    “Ya Allah, kami berlindung kepada Mu dari perbuatan (kami) menyekutukan Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampunan kepada Mu dari sesuatu yang tidak kami ketahui.” (HR Imam Ahmad 4/403 dan Ath Thabrani dalam Mu’jam Kabir dan Ausathnya sebagaimana dikatakan oleh Al Haitsami 10/223-224. Al Haitsami mengatakan: Rawi-rawinya Imam Ahmad adalah rawi-rawi shahih selain Abu Ali dan ia dianggap tsiqah oleh Ibnu Hibban).

    (Disarikan dari buku Syarh Nawaqidhit tauhiid, tulisan Syekh Abu Usamah Hasan bin Ali Al ‘Awaji, Maktabatul Liinah, cet pertama, 1993-1413)

    penulis :Ridwan Hamidi, Lc

    sumber : http://www.van.9f.com/tauhid.htm

    Baca selanjutnya!
    posted by Syahrizal Pulungan @ 11:22 PM   0 comments
    7 golongan yang akan mendapat lindungan arasyNya pada hari akhirat
    28 April, 2008
    Abu Hurairah ra telah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah bersabda:
    ” Terdapat 7 golongan yang akan mendapat lindungan arasyNya pada hari yang tiada lindungan melainkan lindungan daripadaNya. Pemimpin yand adil; pemuda yang masanya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT; seseorang yang hatinya terpaut pada masjid; 2 lelaki yang berkasih sayang dan bertemu dan berpisah kerana Allah SWT; lelaki yang digoda oleh perempuan cantik dan berpengaruh untuk melakukan maksiat tetapi dia menolak dengan mengatakan Aku Takutkan Allah; seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya sehinggakan tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kirinya; dan seseorang yang mengingati Allah ketika bersendirian sehinggakan mengalir air matanya kerana Allah SWT.” Riwayat Muslim


    1. Pemimpin (imam) yang adil.
    Setiap yang dipertanggungjawabkan akan dipersoalkan kembali kelak. Maka bergembiralah kepada mana-mana peminpin yang dapaat berlaku adil. Pemimpin di sini termasuklah seorang suami yang memimpin isteri dan anak-anak. Seorang isteri yang memimpin anak-anaknya dan sebagainya.

    2. Pemuda yang membesar dalam ibadah kepada Allah.

    Naungan Ilahi ini juga dijanjikan kepada lelaki dan perempuan yang sentiasa hidup dalam ibadah kepada Allah. Sentiasa menyedari bahawa Allah melihat segala perbuatannya. Di mana segalanya di bawah kawalan dan naungan Ilahi.

    3. Lelaki yang hatinya sentiasa rindukan (teringat-ingatkan) rumah Allah.

    Begitu jua bagi lelaki yang hatinya sentiasa rindukan rumah Allah. Tertunggu-tunggu setiap masa untuk beribadah di dalamnya. Baik untuk sembahyang wajib

    lima waktu setiap hari dan untuk ibadah lain.
    4. Dua orang lelaki yang cinta mencintai kerana Allah bertemu dan berpisah kerana ALLAH.

    Dalam satu hadis Rasulullah bersabda: “Allah telah mengutuskan malaikat kepada seorang lelaki semasa dalam perjalanan untuk menziarahi saudaranya kerana Allah”. Lalu malaikat bertanya: “Nak kemana?” Dijawab: “Aku mahu menziarah saudara ku… … ..” Tanya malaikat lagi: Untuk apa?” lelaki itu menjawab: Tiada apa-apa tujuan.” Ditanya lagi: “Apa hubungan dengan kamu?” Lalu dijawab oleh lelaki itu:” Tiada apa-apa hubungan.” Ditanya lagi: ” Apa budinya kepada kamu?” Dijawab:”Tiada apa-apa pun.” Ditanya lagi:” Apa tujuannya?” Lelaki itu menjawab:
    ” Aku mencintainya kerana Allah.” Berkata malaikat: sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada mu untuk memberitahu bahawa kerana kecintaanmu kepadanya maka ALLAH telah mengizinkan kamu memasuki syurgaNYA.” (Riwayat Muslim)

    Perasaan sayang dan kasih terhadap orang lain bukan kerana ada tujuan lain. Bukan untuk memikat anak gadisnya atau hartanya, sebaliknya hanya mengharap keredhaan Ilahi. Hanya kerana Allah hubungan ini dieratkan.

    5. Lelaki apabila mengingati ALLAH bersendirian menitis airmatanya.

    Hadirnya perasaan takut kepada ALLAH walaupun bersendirian sehingga menitis airmatanya. Ianya bukan saja-saja tetapi hadir dari hati yang menginsafi kebesaran ALLAH.
    6. Seorang lelaki yang dirangsang oleh seorang perempuan berdarjat lagi cantik untuk berzina, lalu ia berkata: “Tidak! Aku takutkan ALLAH” (inni akhofullah)

    Sesiapa yang takut untuk berbuat kesalahan, takut kepada ALLAH dan azab api neraka akan sentiasa mendapat perlindungan dari-NYA.

    7. Lelaki yang bersedekah dan tidak pula dimegah-megahkannya.

    Pemberian yang mengharapkan balasan dari Ilahi tidak akan diperbesar-besarkan. sebaliknya akan dilakukan secara tersembunyi. Sehingga digambarkan seolah-olah tangan yang kiri tidak mengetahuinya apa yang disedekahkan oleh tangan kanan. Lupakan kebaikan dan pemberian kita, sebaliknya banyak mengingatkan kesilapan dan kesalah diri kita terhadap ALLAH dan orang lain.
    Rebutlah peluang ini, jadilah orang yang beruntung di akhirat. Tiada yang mustahil untuk kita lakukan. Jadilah hambaNYa yang ikhlas dan redha atas segala yang berlaku. Semoga kita semua tergolong dalam golongan orang yang mendapat perlindunganNYA selalu.

    sumber :
    http://www.dakwah.info/index.php/Kajian-Hadith/7-golongan-yang-akan-mendapat-lindungan-arasyNya-pada-hari-akhirat.html

    Baca selanjutnya!
    posted by Syahrizal Pulungan @ 9:35 PM   1 comments
    Memilih pemimpin menurut Islam
    15 April, 2008
    1.Beraqidah yang bersih dari syirik, khurafat, tahayyul serta percaya atau menggantungkan diri kepada jin, syetan dan dukun. Juga penganun mazhab ahli sunnah wal jamaah yang tekun dengan manhaj salafus shalih.

    2.Minimal dia seorang muslim yang baik, tidak pernah tinggal shalat wajib 5 waktu, tidak pernah tinggalkan puasa Ramadhan, tidak pernah lupa atau pura-pura lupa bayar zakat dan pernah pergi haji bila mampu.

    3.Fasih membaca Al-Quran Al-Karim dan tahu bahwa Al-Quran Al-Karim adalah sumber dari segala sumber hukum. Sehingga tidak ada hukum baginya kecuali yang berdasarkan Al-Quran Al-Karim. Maka setiap masalah selalu dirujuknya kepada kitab dari Allah SWT ini.
    Kalau pemimpin negara ini baca Al-Quran Al-Karim saja tidak becus, maka kita harus sadar bahwa kiamat sudah dekat. Jadi bukan sekedar senyum-senyum membuka MTQ.


    4.Tahu batas halal dan haram yang bentuknya adalah penerapan dalam diri, keluarga dan lingkungannya. Sehingga degnan mudah dia bisa membedakan mana praktek haram dan mana halal.
    Untuk itu dia harus dekat dengan para ulama bukan untuk meminjam lidah mereka demi kepentingan pribadinya, melainkan untuk duduk bersimpuh mengaji dan belajar syariat Islam secara seksama.


    5.Tidak pernah mencuri, berzina, minum khamar, berjudi, menipu rakyat, makan uang negara, manipulasi, korupsi, kolusi dan tidak makan uang riba. Karena itu dia tidak punya account di bank ribawi.

    6.Menegakkan selalu amar makruh dan nahi mungkar dalam setiap kesempatan. Sebab sebagai penguasa, di tangannya ada kekuatan. Bila tidak dimanfaatkannya untuk amar makruf nahi mungkar, maka dia harus bertanggung-jawab di akhirat.

    7.Siap menerima teguran kapan dan dimana saja, tidak pura-pura pergi dinas atau malah shopping keluar negeri bila ada masalah yang menuntut penangan yang cepat. Juga tidak mengorbankan anak buah bila menghadapi masalah, tetapi secara jantan berani menyatakan mundur sebab itu menunjukkan bahwa dirinya masih punya urat malu. Tidak seperti gaya para pemimpin yang ada di sekeliling kita sekarang ini.

    8.Tidak menggunakan fasilitas negara untuk masalah yang bersifat pribadi atau pun kepentingan di luar negara secara langsung. Sebab semua fasilitas negara itu adalah amanat yang harus dipertanggung-jawabkan di akhirat nanti.

    9.Tidak akan makan atau mengisi perutnya sebelum yakin bahwa semua rakyatnya sudah makan. Tidak pernah berani tidur malam hari sebelum yakin rakyatnya tentram dan sejahtera. Dan tidak enak-enakan berpesta sebelum anak yatim terjamin masa depannya atau pun fakir miskin punya sumber rezeki yang jelas.

    10.Cinta kepada ilmu pengetahuan dan menggratiskan semua bentuk sekolah dan fasilitas pendidikan. Tidak ada istilah sekolah atau kuliah itu bayar, yang ada justru para siswa dan mahasiswa itu dibayar oleh negara.

    11.Tidak menjual aset negara ini kepada pihak asing, sebab negeri ini sudah demikian kaya dan sebenarnya berlimpah dengan uang. Semua demi kepentingan anak bangsanya, bukan demi kepentingan penguasanya.

    12.Bersikap adil kepada semua pemeluk agama dan memberikan jaminan dan hak-hak mereka untuk bisa hidup dengan damai di bawah jaminan dirinya. Tetapi bersikap tegas bila terjadi kecurangan dan pelanggaran antara sesama pemeluk agama.

    13.Tidak turun dari jabatannya sebelum menghukum semua koruptor baik di masa lalu maupun di masa jabatannya. Sebab membiarkan koruptor berkeliaran sama saja memberikan izin syetan untuk berpesta. Dan sama saja dengan kita tidak punya negara.

    14.Tidak memberikan ruang gerak sedikitpun kepada para penjahat, maling, rampok untuk bisa melakukan aksinya kembali sebelum dipotong tangannya sesuai dengan syariat Islam. Demikian juga dengan para pezina, peminum khamar dan pembunuh. Meski yang melakukannya adalah anak kandungnya sendiri.

    15.Memanfaatkan jabatannya ini untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk cari kekayaan baik buat diri, keluarga atau kroni.

    16.Bercita-cita untuk bisa mati dalam keadaan syahid. Karena itu satu-satunya
    pilihan

    sumber


    terkait : Memilih Pemimpin Gaya Rasulullah

    Baca selanjutnya!
    posted by Syahrizal Pulungan @ 9:46 PM   1 comments
    Harta dalam Islam
    09 April, 2008
    Dalam kehidupan dunia, kita dikelilingi oleh hal-hal atau benda-benda yang kita klaim sebagai milik kita. Keluarga, rumah, pekerjaan, panca indera, harta, ilmu pengetahuan, keahlian, dan lain sebagainya, semua kita sebut sebagai milik kita. Tapi benarkah itu semua milik kita? Sejak kapan semua itu menjadi milik kita?

    Memang, berbagai perangkat keduniaan semisal surat-surat resmi bisa menjadi bukti bahwa keluarga, pekerjaan, tanah, dan sebagainya itu adalah milik kita, namun status kepemilikan kita adalah pemilik nisbi. Pemilik mutlak dari segala sesuatu hanyalah Allah SWT. Bahkan, diri kita yang lemah ini pun adalah milikNya.
    Hal ini sering dilupakan oleh kita. Kita sering lupa bahwa kita bukanlah pemilik mutlak, sampai-sampai kita bersikap seolah-olah kitalah pemilik sepenuhnya segala hal yang kita anggap milik kita. Sehingga, kita memperlakukannya sesuai dengan selera dan nafsu duniawi kita, bukan disesuaikan dengan keinginan sang pemilik mutlak, yaitu Allah SWT.

    Hal itu juga terjadi pada harta. Kita sering lupa bahwa ia hanyalah titipan dari Allah SWT. Di balik itu sebenarnya ada tanggung jawab, ada amanah, bahkan ada sebagian darinya milik orang lain yang harus kita salurkan kembali.

    Kala pertama kali menyebarkan Islam di Makkah, salah satu misi Nabi Muhammad SAW adalah memberantas sikap ketergantungan kepada materi yang menjangkiti masyarakat Arab pada waktu itu. Mereka begitu terlena dalam pusaran materialisme hingga sikap dan pandangan hidup mereka senantiasa diwarnai cara pandang materialistis.

    Itu menjadi salah satu sebab mengapa dakwah Rasulullah SAW tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Mereka tidak peduli kepada dakwah Rasulullah SAW bukan karena apa yang beliau sampaikan tidak masuk akal atau karena Rasulullah SAW adalah orang yang tidak bisa dipercaya, tetapi karena Rasulullah SAW bukan dari golongan kaya, dimana kala itu Klan Hasyim, keluarga Rasulullah, sedang menurun pamornya. Kaum kafir Makkah hanya ingin mendengarkan kata-kata dari mereka yang berharta. Jadi, begitu kuat pesona harta benda hingga ia mampu menutup cahaya Ilahi (hidayah).

    Oleh karenanya, ada beberapa hal yang mesti dicamkan oleh umat Islam dalam menyikapi harta benda, yaitu :

    Pertama, harta adalah anugerah dari Allah yang harus disyukuri. Tidak semua orang mendapatkan kepercayaan dari Allah SWT untuk memikul tanggung jawab amanah harta benda. Karenanya, ia harus disyukuri, sebab jika mampu memikulnya, pahala yang amat besar menanti.

    Kedua, harta adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabk an. Setiap kondisi, entah baik atau pun buruk, yang kita alami sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT, dan mesti kita hadapi secara baik sesuai dengan keinginan yang memberi amanah. Harta benda yang dititipkan kepada kita juga demikian. Di balik harta melimpah, ada tanggung jawab dan amanah yang mesti ditunaikan. Harta yang tidak dinafkahkan di jalan Allah akan menjadi kotor, karena telah bercampur bagian halal yang merupakan hak pemiliknya dengan bagian haram yang merupakan hak kaum fakir, miskin, dan orang-orang yang kekurangan lainnya. Firman Allah SWT dalam surah at-Taubah (9) ayat 103, "ÙAmbillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

    Ketiga, harta adalah ujian. Yang jadi ujian bukan hanya kemiskinan, tetapi kekayaan juga merupakan ujian. Persoalannya bukan pada kaya atau miskin, tetapi persoalannya adalah bagaimana menghadapinya. Kedua kondisi itu ada pada manusia, yang tujuannya dibalik itu cuma satu, yaitu Allah ingin mengetahui siapa yang terbaik amalannya. Bagi yang berharta, tentunya, ada kewajiban-kewajiban yang mesti dilakukan terhadap harta itu.

    Keempat, harta adalah hiasan hidup yang harus diwaspadai. Allah SWT menciptakan bagi manusia banyak hiasan hidup. Keluarga, anak, dan harta benda adalah hiasan hidup. Dengannya, hidup menjadi indah. Namun, patut disadari bahwa pesona keindahan hidup itu sering menyilaukan hingga membutakan mata hati dan membuat manusia lupa kepadaNya, serta lupa kepada tujuan awal penciptaan hiasan itu. Semua itu sebenarnya merupakan titipan dan ujian. Allah SWT berfirman di dalam surah At-Taghabun (64) ayat 15, "Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allah-lah pahala yang besar."

    Kelima, harta adalah bekal beribadah. Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Karenanya, segenap perangkat duniawi, baik yang materil maupun yang non materil, tercipta sebagai sarana yang bisa digunakan manusia untuk beribadah. Kekayaan adalah salah satu sarana ibadah. Ia bukan hanya menjadi ibadah kala dinafkahkan di jalan Allah, ia bahkan sudah bernilai ibadah kala manusia dengan ikhlas mencari nafkah untuk keluarganya dan selebihnya untuk kemaslahatan umat. Jika harta dipergunakan sebaik-baiknya, pahala yang amat besar menanti. Namun jika tidak, siksa Allah amatlah pedih.

    Di atas terlihat bahwa Islam begitu menekankan harta benda sebagai kepemilikan yang tidak terpusat pada satu atau segolongan orang. Namun, itu tidak bisa dipahami bahwa Islam mengabaikan sama sekali hak individu untuk menikmati harta yang telah diusahakannya dengan susah payah. Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran, surah Al-Isra (17) ayat 29, "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya sehingga kamu menjadi tercela dan menyesal."

    Demikianlah, semoga kita tergolong orang-orang yang pandai menyikapi harta benda sesuai dengan ketentuanNya. Aamiin. [Swadaya-032008]

    URL : http://kotasantri. com/mimbar. php?aksi= Detail&sid=508

    Baca selanjutnya!
    posted by Syahrizal Pulungan @ 4:08 PM   0 comments
    Hati Mulia
    23 March, 2008
    Isteri Umar bin Abdul Aziz, Fatimah binti Abdul Malik, sangat terkejut menyaksikan perubahan suaminya yang serta-merta. Sebelum menjadi Khalifah, beliau hidup biasa saja dengan jabatan-jabatan penting yang disandangnya. Setelah menjadi Khalifah, bukan saja tidak mau tinggal di istana kerajaan, bahkan beliau tidak mengambil gaji dari jabatannya itu. Beliau menyambung hidup hanya dari hasil sepetak tanah yang dibelinya dengan uang sendiri.

    Sebagai anak bekas kepala Negara, Fatimah banyak mempunyai barang-barang emas dan perhiasan yang mahal-mahal. Oleh Umar, semua barang-barang itu disuruhnya agar dikembalikan ke Baitul Mal.

    "Engkaukan tahu, wahai Fatimah," kata Umar, "Emas permata yang engkau miliki ini diambil oleh bapakmu dari harta kaum muslimin dan diberikannya kepada engkau. Aku tidak suka permata-permata itu berada di rumahku, bersamaku. Maka engkau boleh memilih, apakah engkau akan mengembalikannya ke Baitul Mal atau izinkan aku menceraikan engkau."

    "Demi Allah, aku memilih engkau daripada barang-barang ini walaupun harganya berganda-ganda, " jawab Fatimah. Lalu dikembalikannya semua barang-barang emas dan perhiasannya ke Baitul Mal dengan tenang.

    "Apakah yang menyebabkan engkau berbuat seperti ini?" tanya Fatimah suatu hari.

    "Aku mempunyai nafsu yang senantiasa ingin kelebihan. Sebelum aku menjadi gubernur, aku ingin menjadi gubernur, lalu tercapai. Setelah menjadi gubernur, aku diangkat menjadi wazir. Setelah menjadi wazir, aku diangkat menjadi Khalifah. Setelah diangkat menjadi khalifah, aku ingin yang lebih tinggi lagi," kata Umar bin Abdul Aziz.

    "Apalagi yang engkau inginkan?" tanya Fatimah keheranan, karena tidak ada jabatan yang lebih tinggi lagi selain menjadi pemimpin Negara.

    "Aku ingin syurga," jawab Umar. Fatimah menangis tatkala mendengar cita-cita suaminya yang mulia itu.

    Ketika Umar bin Abdul Aziz wafat, saudara lelaki Fatimah, Yazid, diangkat menjadi Khalifah. Lalu Yazid ingin memulangkan barang emas Fatimah yang diserahkan ke Baitul Mal dulu. Akan tetapi dengan tegas Fatimah berkata, "Tidak, demi Allah, selama ini aku selalu mentaatinya ketika beliau masih hidup dan tidak akan mendurhakainya setelah beliau wafat. Aku tidak memerlukan perhiasan itu."

    Sungguh mulia sikap Fatimah dan suaminya itu. Tapi di negeri kita, saat ini, adakah para pejabat dan keluarganya yang memiliki sikap seperti Umar bin Abdul Aziz dan Fatimah binti Abdul Malik? Wallahu a'lam

    penulis :R. Khathir


    Baca selanjutnya!
    posted by Syahrizal Pulungan @ 8:11 PM   0 comments
    Get Free Shots from Snap.com

    Search in Quran
    Search in Quran:
    in
    Download Islamic Softwares FREE | Free Code
    Powered by www.SearchTruth.com

    Search in Hadith
    Search: in
    Download Islamic Softwares FREE | Free Code
    Powered by www.SearchTruth.com

    ::wataubatan nasyuha::

  • Penyejuk Qolbu
  • Name: Syahrizal Pulungan
    Home: Kisaran, Indonesia
    About Me: Kelahiran di Rantau prapat kabupaten labuhan batu..pada thn 1972..sekarang tinggal di Kisaran kab.Asahan.SUMUT..mmm..dah berkeluarga anaknya 2...tuh yang berpasangan yang laki...Yafi Syahwindi yang perempuan Ovi Syahfitri...doain jadi anak yang soleh...aamin ya robbal alamin...
    See my complete profile

    Photobucket - Video and Image Hosting

    195. Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik
    {AlQur'an surat Al-Baqarah : 195 }

    262. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
    { Qur'an : surat Albaqarah : 262 }

     http://rizalpulungan.blogspot.com

    http://rizalpulungan.blogspot.com

    http://rizalpulungan.blogspot.com

    http://rizalpulungan.blogspot.com

    Name :
    Web URL :
    Message :

    Previous Post
    Archives
    Template by

    Free Blogger Templates

    BLOGGER

    tuk google..ketik di bawah ini

    Alqur'an hadist online
    Kisah sahabat Nabi
    Konsultasi Syariah
    Berita Islam
     Link Lengkap I 
     Link lengkap II 
      Download  
      E-book Islami  
     Butuh Buku Islami 
               Hak cipta dilindungi oleh Allah Swt TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan untuk kemaslahatan ummat ttd.Syahrizal.Pulungan@2006